Opini by:Muhammad Zulfadli
(Kompasiana)
Saya mengamati salah satu kata atau istilah paling sering diucapakan orang dalam beberapa tahun terkahir ini adalah “Autis”. Istilah
itu merujuk dari tingkah laku individu, bukan hanya anak-anak, tapi
juga menerpa manusia dewasa yang tenggelam dalam rutinitas berlebihan
dengan mengesampingkan atau bahkan menghilangkan hubungan sosial dengan
orang di sekitarnya.
Banyak
orang tua bingung dan resah mereka sebelumnya tidak pernah punya
anak-anak dengan autisme, dan sekarang mereka harus mengatasinya.
Pertanyaan sederhana adalah apa yang perlu dan bagaimana kita tahu semua itu terjadi ?
Saya
kemudian tertarik mencari lebih paham mengenai autisme dari beberapa
sumber dan literatur, dan catatan ini mungkin intisari yang bisa saya
bagi kepada teman-teman semua.
Autisme
pertama kali dijelaskan pada tahun 1943 oleh psikiater Johns Hopkins
Leo Kanner, dan sekali lagi pada tahun 1944 oleh dokter anak Austria
Hans Asperger. Kanner mendefinisikan istilah tersebut
untuk anak-anak yang secara sosial sibuk dengan rutinitas namun sering
memiliki bakat intelektual yang mengesampingkan diagnosis
keterbelakangan mental. Lalu Asperger menerapkan istilah untuk anak-anak yang secara sosial punya obsesi aneh untuk dikembangkan. Anak autis telah ditunjukkan untuk menggunakan otak mereka dengan cara yang tidak biasa.
Lebih
dari 60 tahun setelah autisme pertama kali dijelaskan oleh psikiater
Amerika Leo Kanner, masih banyak pertanyaan daripada jawaban tentang
gangguan kompleks autisme. Penyebabnya masih belum pasti, namun perlahan, banyak juga mitos tentang autisme yang telah terpatahkan. Sebagian ilmuwan mendapatkan gambaran yang lebih baik dari apa yang terjadi di dalam tubuh dan otak penderita autisme bahwa autisme muncul dari kombinasi kerentanan genetik dan lingkungan pemicu.
Ilmu ilmiah pastinya telah menunujukkan bahwa manusia tidak terlahir dengan autisme, cenderung normal. Lalu orang autis didiagnosis sering menderita yang membingungkan, terserang gangguan sensorik, alergi makanan, masalah pencernaan, depresi, obsesif compulsiveness, epilepsi subklinis, penyimpangan hiperaktif . Banyak skpetis muncul ke permukaan timbulnya autisme karena peran orang tua sendiri yang tak proporsional.
Karena itu,
peneliti menambahkan untuk mengatasi persolan autisme disarankan
secepat mungkin, terutama buat perempuan saat mulai masa kehamilan,
persalinan, dan periode pertumbuhan anak. Menerapkan gaya hidup sehat
selalu menjadi parameter kita sejauh mana kita bisa mengatasi penyakit
medis. Dan tentu saja penyakit sosial yang bersekutu.
Salam.